Catatan Sepanjang Pantai Selatan

Kamis, 7 Februari 2008
Saat matahari seharusnya mulai menyorotkan sinarnya, tidak dengan hari ini. Hampir pukul Sembilan mengayuh sepeda bermotor menjauh dari tempat keseharian. Solo, ah…begitu sering tersapa dan terlewati di tiap hari.
Dan deru roda terus melaju melewati garis-garisputih pemisah batas sepanjang aspal jalan dalam kilometer solo-jogja. Berpacu dengan roda dua lain, roda empat seperti mobil-mobil hingga ber-truk-truk. Semua menumpah ruah dalam jalan tatkala balapan motor di sirkuit. Melawan waktu menghadang musuh jangan sampai terdului. Yah, matahari Nampak kurang bersahabat. Sekonyong-konyong awan biru kelabu mengiring segenap perjalanan. Namun sepertinya tak lagi ingin cepat-cepat menurunkan rintik airnya.
Tak berbekal, sekadar tekad ingin menjumpai si Parangtritis. Perjalanan yang aneh..hemm..hemm…tetapi tak ada yang salah. Toh, orang-orang dulu ketika mereka menjelajahi belahan bumi lain tak ada yang tahu peta, arah apalagi modal pengetahuan tempat. Ups, ..jauh mungkin ya perbandingannya?? Apa boleh buat, kerinduan akan desir angin pantai, deru ombak bergulung-gulung serta aroma amis air asin begitu menyeruak.
Masih di ufuk selatan Jawa
Terlanjut…jumat, 8 Februari 2008
Bergelut dengan aspal selama dua jam, hemm..mmm…belumlah langsung menuju sang pantai. Dari arah Janti ke selatan, terbingung oleh letak samudra. Panah ke imogiri membelokkan ke kiri. . berjalan tanpa tahu arah,he..he.. maka, bertanya pada tuan rumah adalah yang terbaik.
Maka berlanjutlah perjalanan.. Satu lagi yang lucu mengiringi. Ketika sampai di pintu menuju pantai. Biasalah, uang administrasi…lucu, karena itu terlewati. Saat tepat di depan, berbarengan dengan serombongan abg yang bermotor-motoran, tentunya dengan tujuan yang sama, Paris. Dan pengiraan petugas masuk dalam kawanan itu. Ha..ha..yes, tidak perlu mengeluarkan sepesersen pun. Tetapi memang sebuah ironi. Toh, mereka biasanya menghitung jumlah pasti orang tetapi lucu ketika karcis yang diberikan sebagai tanda bukti pembayaran tidak sesuai dengan jumlah pembayarnya. Bisa dipastikan lebih sedikit jumlahnya.
Akhirnya….aku datang Paris….!!!!!
Bau air asin, sepoi angin, debur ombak lengkap dengan gulungan-gulungannya, pasir…oh..oh… Tuhan, begitu indah maha karya Mu. Lukisan Mu di bumi ini sungguh begitu memukau. Semburat langit biru menambah elok ciptaan Mu ini.
Tetapi, mereka tidak bisa menjaga titipan Mu, mungkin juga aku…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: