One Time

PUDAR
Selamat pagi, batara
Kulihat kau tak sesilau biasanya,
Sinarmu yang panas kini hanya terasa hangat
Padahal dulu kuakui radiusmu bisa menembus
batas langit-langit sampai ke kerak bumi.
Inti bumi pun sampai kering kerontang, tak berbekas.
Selamat sore, surya
Mungkin pedarmu hanya sampai ini

RINTIK
Hujan, gerimis mendera tak kenal masa.
Aku dan peluh berkutat pinggang padanya.
Aku dan peluh berjejal tempat karenanya.
Aku selalu terhimpit ruang hingga tak berdecak.
Nafasku terlaju rintik-rintik.
Air pun mengalir deras dari atapNya.
Aku dan peluh hanya menerima.
21Des05

MLAKUO
waktu yang terus hadir selalu memperingatkan,
aku tak ambil peduli, aku hanya akan menanti.
”Dasar bodoh.”
biar, biar saja toh aku tetap menunggu.
”Tak tahu diri”
biar, toh aku tak mengusikmu
sedang jarum masih berputar

KULMINASI HARI
jalan-jalan menggilas panas pagi ini
kerikil halus kecil merata berderet panjang
dari ufuk timur ke barat tak terhenti sedetik pun
fatamorgana mulai tampak di pertengahan
segaris lurus menjajari aspal hitam
menyengat, titik merah siang.
7feb06

TETAP
lama tertanam dalam benakku
sejumput akar-akar tajam yang telah mati dua tahun
karena sepenggalah kisah terurai balik
terlalu panjang waktu tersisa
aku tetap saja sama
17feb06

BERPUTAR (segalanya teruji)
romansa hidup tak pernah berhenti
meski gulungan angin menjerat begitu hebat
walau pohon hijau luluh lantah sebab terbang
atau bukit-bukit kecil terpotong sedikit demi dikit
roda tak mungkin macet di tengah jalan

hari lain baru berebut
berganti waktu tanpa lelah
bersiap menjadi si pembaharu
terkadang terpental oleh nafas sendiri

kotak jarum selalu saja bergulir
bermenit serta detakan terus
saja menderu laju
tiada tengokan dan tanpa
mengenal apa itu maaf

wah, lama terpekur tajam juga
tertuju pada satu arah
maju terus!

Padahal babak belur
Permukaannya
Ah, peduli amat!

Bola selalu saja menggelinding
20feb06

RELA
meski kadang waktu tak selamanya baik
tapi aku rela
dirimu pergi untuk sketsa yang lebih nyata
entah jauh di luar sana
teramat kasih atas apa yang tlah tertoreh
demi sebuah titian harap
menanti suatu hari jadi bentuk berarti
21maret06

menjalin benang-benang kusut
tak tahu berapa
sesaat, hamparan keindahan abadi
menari lenggak di pelupuk inderaku

PROSES
Seiring waktu berkembang melalang hari, melintasi batas, menjamah lembut di antara dedaun, menyapu awan kecil yang semburat mengitari langit pagi. Melangkah menjejak hari dengan sejuta asa membuat sketsa garis menjadi bentuk baku. Melayangkannya ke atas mencoba beriring dengan awan biru. Mengepak lebar sayap kecil. Mengikuti alunan angin yang bergoyang membuai diri dalam lantunan. Hingga menunggu matahari pulang ke peraduan. Dan sang bulan bersiap menduduki tahta malam. Bersua dengan dingin. Ketika esok, aku telah hidup lagi.
Solo, 17 Juni 06

Saat pagi bersapa, berharap hati telah usai. Semalam bertandang lega dengan sang raja. Berdebat tentang rasa. Bernostalgia waktu menghitung jarum yang sudah usang. Masih berangan pulang ke dulu. Tatkala itu, ingin, lama telah pergi. Hanya kosong yang tersisa, sejak perhelatan tadi. Karena sebab habis terkikis detik.
Solo,17 Juni 2006

Aku mencintamu telah lama
Dalam sosok mungil,
kukenal sepuluh kemarin
Kecil si mata empat

Aku merindumu sudah
Oleh detik pun dirimu menjelma
Bermetamorfosa secepat deru
Selaju kereta malam
End of June 06

Angin itu riuh bertiup, mengarak matahari pagi melewati batas siang dan menghantarkan pulang ke peraduan. Ombak pun bergulung-gulung. Membuat linier selurus horisontal pantai. Menggulung air dari tengah ke tepian. Berselancar padu mengisi sela-sela pasir. Menempati rongga-rongga putih, hitam. Lalu kembali ke asal. Jikalau ke tepian pasir menjilatinya dengan lidahnya yang terjulur panjang sepanjang batas.
Someplace in The north of Java

Keluhku berkutat dengan waktu
Bergelut riuh berjejal perdu
—-0—-
Aku yang memilihnya
Sebagai jalan pintas ke muara
Peduli apa dengan hutan,
belukar, kerikil, kerakal,
batu besar,
Mereka tetap saja diam.

Aku yang menariknya
Dari ujung danau ketepian lembah
sebagai alas hijauku bersandar
rumput, bunga, dedaun,
Akan selalu bergeming

Aku yang menunjuknya
Dalam tinggi pohon yang berdiri
Setegak gardu tiang di atas aspal
menjulang, menengadah,
Tapi sama.

Aku memilih, memilik,
Sejumput akar liar untuk kujadikan
pegangan. Seberapa lama kubertahan
Aku tak mendengar, tak melihat,

Salahkah aku memintamu?
Mengarungi jalan terjal
Bersamaku?
Selalu kunanti sapamu
Di tapal batas rinduku
26 feb 07

TANPA JEDA
persimpangan itu begitu ramai
ketika kulewati malam tadi
sekedar mencoba mencari tapak
diantara riuh padat kepul asap
diantara deretan panjang roda-roda

jeruji tak akan berhenti pada satu titik
bertemu dengan garis lain di tanda baru
terus berulang berganti
sampai pada perhentian terakhir
namun deru melaju memacu
hari yang sama

JATUH 1
Tak disangka lantai itu demikian licin
Seuntit kecoa tak berani mendekat
Apalagi semut, yang ada malah plak, plak, KO.
09march07

FLUCTUAT NEC MERGITUR
Kutemukan serakan itu kemarin
Namun aku terlanjur jatuh
Same day

MATA UANG
Dua sisi berbeda terbalik satu sama lain
Dan karena tak pernah bertemu
Dan dunia pun berbeda seketika
Dulu, sekarang
13mart07

HATI
aku bertaruh dengan hati
kupinta ia untuk tak pernah lagi
kupinta ia untuk tak ada lagi
kupinta ia untuk tak disini lagi
aku tertusuk lebih dalam, hati.
27mei07

biarkan aku bercerita tentang dia…
kali pertama ketika mulut ini terkunci rapat. Dan ketika sepatah kata pun tak mampu tertuang.

Dua delapan pada mei dua enol enol tujuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: