PERBURUAN USAI: Diasingkan atau mengasingkan…

Dua definisi kata yang sama akar rumputnya akan tetapi berbeda makna. Di- mengarah pada pasif sedang me- sebaliknya berstatus aktif. Ketika itu ditempatkan dalam sebuah kalimat entah apapun sebagai subjek ataukah objek? Mungkin bisa berdiri tanpa butuh kedua-duanya. Berasal dari satu bentuk asal “asing” alangkah validnya jikalau kita menilik dalam KBBI tercinta. Maaf sok gak sempat buka-buka, he..he…
Yah, apalah itu mencoba mengartikan sebagai suatu kata yang bermakna tentunya. Sebut saja contoh ketika Cut Nyak Dien diasingkan jauh dari tanah kelahirannya karena pembelotannya terhadap kolonial yang merebut paksa tanah pribumi atau saat Bung Karno “diasingkan” juga ke berbagai tanah kepulauan di nusantara… mungkin perbandingannya terlalu besar dan ruwet (sorry, pengandaian yang berlebihan). Lalu ketika kata “asing” meluncur mengatasi sekat-sekat ruang dan waktu menembus masa menerobos bilik-bilik menghempas semua yang melintang. Dan akhirnya sampai pada abad 21 menjelang 22 menuju 2008 masehi. Berevolusi ke setiap mereka yang berjantung. Ha..ha…
Hemmm…setiap yang berdetak mungkin lho pernah merasa kata laik itu. Namun beberapa tak perlu menanggap apalagi bereaksi terhadap efeknya. Karena toh setiap kata itu bebas tak terikat punya pegangan sendiri lain dengan morfem. Sebab morfem pun sebenarnya beragam selain yang bebas dan terikat ada pula utuh dan terbagi. Terus apa bedanya?? Ups…ya begitulah fenomena bahasa yang kata Chomsky pada setiap anak itu memperoleh bekal ujaran secara langsung. Atau lebih mantapnya lihat di Language Acquisition bagaimana si anak itu memproduksi serta mempersepsi ujarannya. Maaf, melantur ke medan psikolinguistik.. dikarenakan sedang dalam masa selam bertutur psikolinguistik. Tuntutan studi, yup.
Kembali ke kata awal-awal tadi. Aduh, bukan maksud mengondisikan keadaan dengan mendramatisir kata-kata. Tapi tak punya kata untuk mendeskripsikan suasana kalbu saat itu bahkan saat ini. Dari kemarin mencoba agar tidak memakai subjek apalagi memosisikan objek. Wuih, seakan-akan korban apa gitu. Deskripsi yang aneh, maaf. Waktu, seandainya bisa kembali. Ha..ha..sekeras apapun meminta takkan ada yang bisa kembali. Bolehlah kita bernostalgia hari kan? Kembali ke masa keluarga. Sebut saja begitu..dengan mudah tercipta sosok bapak-ibu yang berujud pada kakak-kakak yang senantiasa memapah menghantarkan adik-adik kemanapun pergi. He..he.. mirip playgroup atau kinder garden. Oh, no!!! it’s too much! Apa coba? Suasana keakraban yang sangat. Tapi alhasil semua pada melarikan diri tuh. Apa yang salah? Karena dari situ tercipta anak-anak emas sampai anak-anak tiri yang dari kecil terawat tapi melupakan lainnya. Sungguh terlalu! Cuma orang yang “gak tahu diri” mau kembali ke lubang “buaya”. Jadi terngiang tokoh-tokoh di negeri saat itu. Penuh dengan crocodile berbahaya lagi akut yang sulit untuk disembuhkan. Lebih tepatnya tidak mau disembuhkan. Terlalu sayang untuk dibuang katanya.
Teringat “waktu” itu bisa dikatakan mencalonkan diri pada yang “gak tahu diri”. Masa bodoh, tak ada urusan dengan hunian sekitarnya. Maka berhari-bulan terlewati dengan panas. Lalu seperti komet melesat berpacu dengan kecepatan cahaya dan suara. Menyibak garis-garis angkasa menjauhi bumi menembus pusat tata surya hingga tak ada batas lagi. Sekira si komet tentunya.
Setelah itu mohon ditebak sendiri…sesuai imajinasi!!!
Terlalu membulat-bulat dan meruwetkan diri ya?
Sama begitulah rasa-rasanya. Sekadar mengingat dulu lho.
Dan ketika lagi dan lagi kembali ke pertama. Sebenarnya tidak ada kata yang cukup lagi. Baru itu yang mampu terbuat. Entah, seperti apa menggambar “aku”… wah, sori melanggar janji sendiri menggunakan subjek.
“Hanya tidak ingin menyerah pada apapun” tapi dengan berat berkata “aku menyerah” kali ini. Maka asing adalah kata yang tepat. Mencoba bertahan kalau boleh tersadari selama mampu dan bisa. Proses di planet ini telah usai!!! Bukan karena siapa atau apa tapi karena menyerah dan kalah. Terserah tanggapannya…tak akan ada ketidakenakan. Sekalipun mengusung wajah dan badan tapi cuma raga tak lebih. Sebab jiwanya sudah terkubur hidup-hidup oleh kekalahan. Wakakakakak…
Apapun rasanya, manis, asam, asin, sampai pedas itulah warna. Melengkapi setiap inchi episode hidup. Merupakan anugrah yang tiada terkira. Dari mulai lahir baru bisa menangis hingga berteriak-teriak tidak jelas se”gedhe” ini rasa syukur yang tak ada batas teruntuk yang menciptakan segala keelokan dunia beserta isinya. Sumpah! KEREN!
Skenario terlengkap, terkeren, terhebat sepanjang masa…Cuma Dia yang paling sempurna…
Di sepotong-potong slide nafas adalah karunia… mahakarya terindah…
Andai bisa meresapinya tiap peristiwa, alangkah hebat aktor-aktris yang berlaga di dalamnya. Begitu “apik” memainkan peran, benar-benar hidup. Misal ada ajang piala Oscar pasti seru. Lihat saja berapa banyak piala emas yang diproduksi panitia penyelenggara. Karena kategori yang dilombakan amat banyak dan jangan lupa partisipasi pesertanya pun meruah. Dan repot yang tak bisa dibayangkan…berapa mil “red carpet” yang mesti digelar sepanjang kutub utara menuju selatan? Panjang pakai sekali!!! That’s!!!
Teater itu masih berjalan sampai sekarang. Mungkin sudah main lebih dari seribu babak. Wuih, rekor yang menakjubkan untuk seorang “artis” yang “sejati”. Hanya tepukan serta gelengan kepala yang tak henti-hentinya tertuang dalam alunan setiap motion-nya. GREAT!!! Kata yang selalu terucap oleh ustadz “M” waktu zaman sekolah tingkat atas. Dan dengan senang menerima ucapan support itu. Karena the golden girl telah lahir atas dirinya sendiri. Busyet!!!
Bukan khayalan apalagi angan-angan. Tapi kenyataan yang serba berwarna merebak di sepanjang bumi, merah, jingga, hijau, biru, nila, ungu, kuning, putih, coklat, hitam…kompleks.
Dan dalam keramaian itu ada sepi terselip. Ada sendiri memadati. Ada sunyi menyelimuti pada keriuhan jalan raya. Aneh, padahal lalu lintas tak henti-hentinya terlanda macet. Berhias asap, sampah, serta aneka benda-benda hidup, mati. Seperti di pasar-pasar, terminal, hingga gedung perkantoran tak ada senyap. Riuh, gaduh karena mereka bernafas!!! Hidup!!!
Membuat dunia sendiri dengan kacamata kuda. Seperti mungkin terserang afasia akut atau malah disartria bahkan amnesia. Gila!!!
Kemudian asing-lah yang datang memberi tempat. Ketika tak ada lagi ruang untuk sekadar bernafas, bermetamorfose apalagi… tak ada bentuk lagi. Tak ada yang tersisa dari sebuah perhelatan panjang nan keras. Setidaknya itu yang terekam. Monggo kalau tidak setuju.
Yah, sedikit bercurah. Tapi setitik saja, oke? Jangan banyak-banyak. Nanti terlalu dalam dan tak bisa dicabut. Maka panah itu akan menancap dalam-dalam dan butuh korban banyak untuk mengeluarkannya itu pun tak ada nyawa yang selamat. Ups! Tragis!!!
Hanya merasa “mengasingkan” diri di riuhnya jalan. Pernah, suatu kali menitik air di sekat indra tapi itu tak ada artinya. Saat hanya “aku” yang merasa-i. karena melihat semua baik-baik saja tanpa ada satu saja. Tak ada makna. Tak berasa. Tak berbekas. Dan justru itu yang menjadi tombak. Menusuk tepat ke ulu hati membelah jantung dan paru-paru lalu menyekik leher. Maka untuk mengakhirinya adalah harakiri.
Sungguh, tak ada yang teringinkan dari sekian ratus hari yang telah terlalui di sudut ini. Tak ada sesal, ..tak ada. Sebab beribu virus bernama pengalaman yang telah tertempa lewat sudut-sudut itu. Setidaknya tertemui juga atas “aku” yang selama ini apa…meski egoistis, emosi, mendominasi dalam tiap langkahnya.
Sungguh, terima kasih yang tak bisa terukur oleh waktu. Atas segala hadiah yang telah tertumpah setiap jedanya. Kembali kasih untuk setiap momen itu…tak bisa tergantikan oleh apa pun.
Hanya telah usai perburuan ini. Semua masih baik-baik saja…
Teruntuk MF.
Kembali kasih masih mengingatku
26feb08

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: